'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Webinar HPSN 2021: Jawa Tengah Bebas Sampah Tahun 2025
27 Februari 2021 06:03 WIB | dibaca 41
 
Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 tahun 2017, Indonesia ditargetkan bebas sampah pada tahun 2025. Peraturan ini tentunya menuntut Jawa Tengah untuk ikut menyukseskan gerakan tersebut. Hal ini disampaikan Tri Astuti dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah pada Webinar Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2021 pada Jumat (26/02) malam. 
 
Menurut Tri Astuti, bebas sampah bukan berarti tidak boleh menghasilkan sampah sama sekali. Namun maksudnya sampah yang dihasilkan harus dikelola dengan baik. Sebanyak 30% sampah terkurangi dan 70% sampah tertangani. “Boleh menghasilkan sampah. Tapi harus dikelola dengan cara pengurangan ataupun penanganan,”ujar Tri Astuti yang kerap dipanggil Tuti.
 
Tri Astuti mencontohkan upaya pengurangan sampah bisa dilakukan dari skala rumah tangga. Misalnya, dengan membawa tas sendiri ketika berbelanja. Bisa juga dengan membawa rantang sendiri ketika memesan makanan. 
 
Dengan upaya pengelolaan tersebut, lanjut Tuti, diharapkan dapat mengurai sumber permasalahan sampah. Pasalnya, masa aktif lokasi TPA di Jawa Tengah banyak yang akan berakhir. Sehingga perlu adanya lahan TPA yang baru. Padahal menurut PP Nomor 81 Tahun 2012, lokasi TPA jaraknya minimal harus 1 km dari permukiman penduduk. “Kalau TPA sudah penuh dan tidak bisa dioperasionalkan lagi, sampah mau diproses di mana lagi?” ungkap Tuti yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan melalui Zoom Meeting. 
 
      
Peserta Webinar Potret Sampah di Jawa Tengah: Upaya Pencegahan dan Mitigasinya
 
 
Dalam pemaparannya yang berjudul “Potret Sampah di Jawa Tengah: Upaya Pencegahan dan Mitigasinya”, Tuti menjelaskan upaya DLHK dalam capaian pengurangan sampah sebanyak 19.08% pada tahun 2019. Sedangkan untuk capaian penanganan masih sangat jauh dari harapan yang seharusnya 75% akan tetapi baru terealisasi 49.05% di tahun 2019. 
 
Lebih lanjut Tuti berharap masyarakat dapat berkontribusi dengan tidak sekedar berprinsip ‘kumpul-angkut-buang’ sampah. Melainkan sampah harus benar-benar habis diolah di tingkat desa. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi biaya pengelolaan sampah di TPA.
 
Peran dari organisasi Aisyiyah dan Muhammadiyah juga diharapkan mampu menjadi penggerak. “Disini ada organisasi Aisyiyah dan Muhammadiyah. Kami berharap bisa menjadi mitra kader-kader lingkungan. Kader-kader penggerak masyarakat,”terangnya.
 
Dengan sinergi dari semua pihak, pengelolaan sampah bisa dituntaskan sehingga misi Jawa Tengah Bebas Sampah Tahun 2025 bisa terwujud. Hal ini selaras dengan Gerakan Muhammadiyah Bebas Sampah (GMPS) yang dicanangkan oleh LLHPB PWA Jawa Tengah bersama MLH PWA Jawa Tengah. (*)
Shared Post: